SITUS POKER & DOMINO QQ ONLINE

�� PROMO KHUSUS NEW MEMBER DI TANGKAS DOMINO

�� DEPOSIT 20000 BONUS LANGSUNG 20000
�� Menyediakan Texas Poker, Domino99, Bolatangkas, Adu Kiu, Bandar Kiu , Adu Dadu, Bandar Dadu, Bandar Sakong.
�� Bonus Referral 20%
�� Bonus Rolingan

Hubungi Customer Service kami yang ramah tamah melalui LIVECHAT ATAU WHATSAPP 0812 7980 898

��‍♀️ WWW.TANGKASDOMINO.ME

BPOM Respon soal 60 Persen Produk Nestle Disebut Tak Sehat

 

Ilustrasi, sumber foto: iStockphoto

TANGKAS DOMINOBadan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) angkat bicara terkait informasi yang menyebutkan 60 persen produk Nestle tidak sehat. BPOM menyatakan bahwa informasi tersebut tidak terkait dengan keamanan dan mutu pangan.

“Pemberitaan tersebut berkaitan dengan pencantuman kandungan gizi produk, khususnya kandungan gula, garam dan lemak (GGL) sebagai salah satu faktor risiko penyebab penyakit tidak menular (PTM), jika dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan,” kata BPOM dalam siaran pers yang dikutip dari pom.go.id.

Informasi kandungan GGL merupakan bagian dari pencantuman Informasi Nilai Gizi (ING). Hal ini wajib berdasarkan Peraturan Badan POM Nomor 22 Tahun 2019 tentang Informasi Nilai Gizi Pada Label Pangan Olahan.

Sedangkan secara global, pedoman pencantuman kandungan gizi diatur dalam Codex Guideline on Nutrition Labeling (CAC/GL 2-1985 yang direvisi pada tahun 2017).

BPOM telah melakukan evaluasi sebelum produk yang diedarkan

BPOM menjelaskan, dalam pemberian Nomor Izin Edar (NIE) produk pangan olahan, termasuk produk Nestle yang beredar di Indonesia, berbagai proses evaluasi telah dilakukan. Mulai dari aspek keamanan, mutu, nutrisi, pelabelan, hingga pencantuman ING.

Selain dalam bentuk tabel, ING juga dapat mencantumkan informasi pedoman asupan gizi harian dan logo “pilihan lebih sehat” di bagian utama label, yang diterapkan secara sukarela.

"Model pencantuman 'Health Star Rating' dengan persyaratan kandungan gizi tertentu dan menggunakan peringkat dari bintang setengah sampai dengan lima diterapkan di Australia dan New Zealand," tulis BPOM.


Pengawasan rutin dilakukan oleh BPOM

Selain itu, untuk memastikan konsistensi produk, BPOM menyatakan terus melakukan pengawasan yang ketat. Upaya yang dilakukan melalui pengambilan sampel dan pengujian.

“Pelaku usaha wajib menjamin produk yang beredar memenuhi persyaratan keamanan, mutu, gizi, dan label,” kata BPOM.

Mereka menjelaskan, kebutuhan gizi individu diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Bagi individu yang memiliki kebutuhan gizi khusus karena kondisi fisik, aktivitas fisik dan/atau kondisi kesehatan tertentu, agar berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.

“Badan POM bersama stakeholder terus mendorong masyarakat untuk membaca label termasuk ING sebagai salah satu upaya pencegahan PTM dan menerapkan prinsip konsumsi gizi seimbang sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 41/2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang,” ujarnya.

Selain itu, BPOM mengimbau masyarakat untuk menjadi konsumen yang cerdas dan tidak mudah terpengaruh isu yang beredar. Masyarakat dihimbau untuk selalu mengecek KLIK (Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar, dan Cek Kadaluarsa) sebelum membeli atau mengkonsumsi produk pangan.


Penjelasan Nestle Indonesia

Sebelumnya, dokumen internal Nestle yang menyatakan 60 persen produk tidak memenuhi standar kesehatan beredar di media. Dilansir Financial Times, hanya 37 persen produk Nestle yang mendapat peringkat di atas 3,5 dalam sistem peringkat kesehatan Australia.

Terkait kabar ini, Head of Corporate Communication Nestle Indonesia, Stephan Sinisuka mengatakan laporan tersebut kurang akurat. Hal ini karena analisis tidak mencakup produk nutrisi untuk bayi atau anak, nutrisi khusus, makanan hewan peliharaan, dan produk kopi.

Jika dilihat dari keseluruhan portofolio produk penjualan global, menurutnya kurang dari 30 persen tidak memenuhi standar kesehatan eksternal. Produknya didominasi dengan indulgent (memanjakan), seperti cokelat dan es krim.

"Coklat, es krim dan lain-lain itu akan sulit mendapatkan rating 3,5-5," kata Stephan dilansir dari IDN Times, Selasa (8/6/2021).

Ia menegaskan, dari segi kualitas, produk cokelat dan sebagainya aman untuk dikonsumsi. Asalkan tidak dikonsumsi secara berlebihan.

“Vitamin C baik untuk daya tahan tubuh, tapi kalau dikonsumsi berlebih akan mengganggu,” ujarnya mencontohkan.


Nestle akan terus meningkatkan kualitas produk

Ia mengatakan Nestle akan terus meningkatkan kualitas produknya. Misalnya, sejak 2017, Nestle telah mengurangi kadar gula produknya hingga 28 persen.

Nestle juga berpartisipasi dalam kampanye pola makan yang sehat, seimbang dan menyenangkan.

Untuk produk di Indonesia seperti susu dan kopi, Stephan mengatakan bahan baku diambil dari peternak dan petani lokal.

“Di Indonesia, produk susu dan kopinya bersumber dari local farm,” ujarnya.

Untuk susu, ia mencontohkan Nestle mengambil dari peternak di Jawa Timur yang nilainya mencapai Rp 1,7 triliun per tahun. Sedangkan untuk kopi, bahan bakunya diambil dari petani di Lampung.

Posting Komentar

0 Komentar