Berikut Fakta-Fakta yang Menyertai Hari Demokrasi Internasional Tahun Ini
Ilustrasi, sumber foto: Istimewa
Tangkas Domino - Setiap tanggal 15 September, dunia memperingati Hari Demokrasi Internasional. Tahun ini, perayaan Hari Demokrasi Internasional memasuki tahun ke-14. Dideklarasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2007, hari libur tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran betapa pentingnya bagi negara-negara untuk bertindak dan bertindak secara demokratis.
Sejak lama, banyak negara telah mencoba untuk mempromosikan demokrasi yang sempurna sebagai budaya politik atau sosial mereka. Namun, tidak sedikit negara yang terjebak dalam label demokrasi yang tidak sempurna atau bahkan rezim yang otoriter. Perbedaan budaya dan pemahaman demokrasi di setiap negara di dunia menjadi salah satu alasan mengapa demokrasi sulit mencapai kata sempurna.
Berikut beberapa fakta tentang demokrasi dunia dalam beberapa tahun terakhir.
Indeks demokrasi global turun drastis
Siapa sangka indeks demokrasi global yang dibanggakan banyak negara mengalami penurunan yang cukup serius. Dunia yang telah memasuki masa pandemi 2020 hingga saat ini tidak cukup membuat negara-negara mengutamakan demokrasi, tetapi sebaliknya.
Dikutip dari The Economist, indeks demokrasi global merosot pada 2020 menjadi rata-rata 5,37, yang merupakan angka terendah sejak penilaian pertama kali dimulai pada 2006.
Sebelumnya pada tahun 2015 indeks demokrasi global berhasil mencapai angka di atas rata-rata 5,5, namun sayangnya memasuki tahun 2016 dan seterusnya angka tersebut terus menurun hingga titik terendah pada tahun 2020.
Demokrasi terbaik masih dipegang oleh negara-negara Eropa
Suatu kebanggaan tersendiri bila suatu negara mencapai indeks demokrasi yang tinggi bahkan mencapai predikat menerapkan “demokrasi sempurna”. Banyak negara berlomba-lomba menerapkan demokrasi tanpa cela yang menunjukkan kemajuan peradabannya.
Selama tahun 2020 hingga saat ini, sebagian besar negara di dunia yang memiliki indeks demokrasi global di atas 9,00 adalah negara-negara yang berada di benua Eropa, sebagaimana dilansir dari Democracy Index 2020. Negara-negara seperti Swedia, Norwegia, Finlandia, Irlandia, Denmark, dan yang lain, berada di puncak di mana demokrasi mereka dicap sebagai demokrasi yang sempurna.
Sementara jika kita melihat Timur Tengah dan Afrika, angka yang diberikan oleh indeks demokrasi global turun di bawah 2,00. Pemerintah dengan tangan besi mutlak di negara-negara kawasan menjadi alasan mengapa “demokrasi” sulit dicapai di sana.
Aksi kudeta menggerogoti proses transisi demokrasi di benua Afrika
Mencoba mengejar ketertinggalan dari negara-negara di bagian lain benua, Afrika saat ini sedang mengalami krisis demokrasi. Proses transisi pemerintahan yang sering berjalan tidak demokratis atau bahkan dengan paksaan menyebabkan hampir semua negara di Afrika dicap sebagai “rezim otoriter”.
Melansir The Economist, aksi kudeta selalu menjadi penyebab utama mengapa implementasi demokrasi di Afrika sulit dicapai. Misalnya, Mali yang sebelumnya sukses menjalankan pemilu demokratis, harus menghadapi kudeta oleh militernya sendiri.
Pergantian pemerintahan secara paksa melalui cara ini menurunkan indeks demokrasi di Afrika sehingga sangat sulit untuk mencapai predikat demokrasi yang tidak sempurna. Label demokrasi yang tidak sempurna sebenarnya ditempelkan pada negara-negara seperti Amerika Serikat, Indonesia, Perancis, Brazil, dan sebagainya.
Sehingga bisa dinilai sendiri seberapa signifikan perbedaan kehidupan demokrasi yang dirasakan oleh masyarakat sipil di benua Afrika dan belahan dunia lainnya.

Posting Komentar
0 Komentar